
with red wine and green complex. enriched with wine extracts from France. wine creates a clear and smooth jelly-like skin by gently lifting away dead skin cells and providing hydrating moisture.
Posting-an twitter sekarang membludak. sudah dari sekitar tahun lalu twitter mulai sering over capacity, meninggalkan trend social media sebelumnya, Facebook. Dari yang tadinya aktif ngpost status atau wall orang sehari bisa berpuluh-puluh kali, sekarang pada pindah ke twitter. dan konsepnya, sama aja. ngtweet berulang ulang dalam sehari.
ngtweet memang bebas. engga ada larangan tertulis harus nulis apa, apa yang ga boleh ditulis. dan dengan berbagai macam orang yang berbeda-beda, isi pikirannya yg berbeda-beda, maka jenis tweet pun tentu juga berbeda-beda. seringkali yang paling mencolok:
1. Tweet Galau
galau, fenomena yang paling sering menimpa anak muda, apalagi kalau jam sebelas malam keatas. yah, banyak juga sih yang pagi sampai sore pun juga udah galau. khasnya, isi tweet2anya yg seputar tulisan curhat, kalimat-kalimat kegalauan, kalimat2 puitis ttg cinta dll.
2. Tweet Bijak
selalu ada satu profil account twitter yg isinya tulisan-tulisan bijak yang akhirnya mendapatkan banyak followers dan diretweet-retweet oleh banyak orang. dan sering akhirnya kalimat-kalimatnya di copy paste tanpa credit source. well, people.
3. Tweet Gombal, Lucu-lucuan
yah, banyak lah yah contohnya. seperti twitter si Poccoong, terus Funny Page, Auto Corrects, dll.
4. Tweet Fangirl
nah, ini. karena berbagai demam artis sana sini skrg udah bisa ngshare-share lewat twitter, seperti Justin Bieber, One Direction, SMASH, Super Junior, SNSD dan masih banyak berbagai artis lain. dan tidak hanya tweet yang memang mengatasnamakan profilenya sebagai forum fandom, bahkan sangat banyak tweet personal pun juga secara tidak langsung menjadi tweet khusus fangirl.
well, disinilah banyak, orang-orang membaca timeline-nya, lalu membaca tweet salah satu followingnya, dan berkomentar.
“ih, ini anak apaan sih tweetnya.”
“najong alay banget tulisannya deh.”
“apaan sih nih kok kalimatnya kasar gini di socmed, ga beretika banget deh.”
“masa isinya korea-korea semua gini, ga malu apa?”
“ah anak abg isinya galau galau semua, masih puber apa emangnya!”
“ini apa lagi tulisan tulisan sampah semua, ga penting banget. belum dewasa apa?”
dan yah, akhirnya banyak sekali judge-an ini itu. kalau ada profil yg isinya kalimat-kalimat menye menye, seringkali dibilangnya “ahh, anak galau, baru puber kali.” atau ada yg isinya ngjelek jelekin atau nyindir orang, atau bahkan tweetwar, srgkali akhirnya dibilang, “ih caper banget sih, ga malu apa.” dan lain lain, dan khas orang Indo, selalu berkomentar.
sebenarnya, tweet memang bisa dijadikan alat untuk refleksi diri. terkadang, memang apa yang kita tulis itu apa yang dipikirkan kita, baik penting atau ga penting. namun, memang bukan berarti tweet yang kita tulis itu adalah 100% diri kita. banyak contoh kasus seperti, ada orang yang kelihatannya berperilaku baik, kalem, dewasa.. tapi pas di twitter, dia ngmaki maki orang, menulis kata kebun binatang ke orang sana sini. terus akhirnya orang lain yg lihat, jadi mandang dia sebelah mata. atau orang-orang yg suka bikin tulisan galau, dibilangnya masih belum dewasa. atau bahkan, kasus fangirl, yg isi tweet-tweetnya tentang idolanya, terus dijudge masih kayak anak kecil. jadi, sebenarnya tweet yang baik dan benar itu, kayak apa sih?
dalam hidup pun ga pernah ada patokan baik dan benar. semuanya metafisik. hanya bisa mengandalkan apa pikiran orang lain. kita gabisa bilang diri kita baik apabila orang lain tidak berpikiran sama, begitu juga sebaliknya. dan memang, tweet itu seperti halnya hidup kita. hidup itu memang bisa dijalanin bebas sesuka hati kita, namun pasti akan selalu ada batasan-batasan yang mau gamau harus kita hadapin. begitu juga dgn tweet, ada batasan-batasan yang harus kita tahu. apa saja batasan-batasan itu, sejujurnya menurut saya batasan ini berbeda-beda untuk tiap orang. sopan dan beretika, harus. mengeluarkan pikiran, boleh. tapi sejauh apa? disinilah perbedaannya. disinilah kita harus ingat batasan untuk mengeluarkan semua isi diri kita dalam social media. even though its personal account, but you’re in social media. pada akhirnya kamu bersosial disini, dan seperti halnya hidup kita bersosialisasi dengan orang lain. kalau kamu mengeluarkan seluruh isi pikiran lalu kamu dijudge ini itu, ya bukan salah yg ngjudge, bukan pula salah kamu yg terlalu nyolok di twitter. tapi ini memang siklus hidup yang mau tidak mau kamu pasti selalu “dilihat” orang.
gamau dijudge itu manusiawi. beruntunglah kamu apabila punya teman yg memang tdk punya hobi ngjudge, but come on, this is life. life isn’t always about what you want. jadi kalau gamau dijudge, ya berhati-hatilah, ingat batasan apa yg harus kamu hadapin. tapi kalau kamu mau tetap mainstream, well silahkan, tapi ada resiko yang kamu harus tahu dan tidak seharusnya kamu keluhkan lagi.
but, the truth is… dont judge people only by their tweets, and by their looks. tidak banyak bahwa yang kelihatannya pendiam dan kalem tapi isi tweetnya liar dan sering kali tweetwar. ada lagi ada orang yg ceria, tapi isi tweetnya ternyata lagi galau atau tulisan-tulisan puitis cinta. atau bahkan, ada yg isinya tweet-tweet hanya fandom tentang idolanya, tapi diluar itu dia orang yg dewasa dan bijak. its all unpredictable. so tweeps, be careful, and be social :”)
blog yang ini.. terinspirasi dari salah satu teman gue, yang baru saja mengalaminya. ehm well, yang seperti ini memang pasti ada di dalam keluarga, gabisa dihindari. tapi selalu bisa memberi dampak yang berbeda-beda ke anak, terutama.. yang belum kuat mentalnya.
ketika orang tua bertengkar hebat, dan anak mendengarkan, dan bahkan mungkin melihat langsung. apa yang terjadi?
masih kecil atau pun dewasa, engga ada anak yang suka nglihat orang tuanya berantem. baik cuma debat kecil atau pun sampe saling bentak, atau mungkin lebih dari itu. mewakili -mungkin hampir seluruh- anak yang merasakan, pasti merasa takut. mau ngumpet di kamar, mau gamau suara berantemnya kedengeran. mau ngalihin biar ga denger dengan dengerin musik keras-keras, tapi hati tetep ga tenang. mau keluar biar misahin agar ngga berantem lagi, yang ada kita malah nangis kita yg dihibur, atau bingung mau ngomong apa di depan mereka yang lagi sibuk nyalahin satu sama lain, bukannya nyelesaiin masalah mereka.
kalau kamu cukup dewasa, mungkin kamu bisa membawa atmosfir yang lebih baik agar bisa menjadi penengah untuk orang tua, agar lebih tenang. tapi kenyataannya masih sangat banyak anak-anak yang memilih diem ngumpet di kamar. dan ngrasa ketakutan.
penting atau engga pentingnya sebuah masalah, betapa pun bertanya masalah, yang mau gamau mempermainkan emosi orang dewasa. pesan yang paliiing saya ingin para orang tua perhatikan, termasuk pada saya sendiri yang kelak akan menjadi orang tua, kalau kalian benar-benar dewasa, tolong jaga emosi, TERUTAMA di depan anak. apalagi kalau anaknya masih kecil. bukannya kalian sendiri yang selalu bilang, orang dewasa itu lebih bisa jaga emosi, ga kekanak-kanakan, lebih bisa menghandle masalah, harus bisa mengatur ini itu, blablablala. saya pun belum dewasa seutuhnya. saya juga kurang tahu dewasa itu seperti apa sih sebenarnya. dan kami yang masih belum tahu ini, mau tak mau mencontoh para orang tua, yang seharusnya, benar-benar telah dewasa. tapi kalau -maaf- para orang tua sendiri tak bisa memberi contoh dengan spesifik dan benar, kami mau bagaimana? tidak semua anak bisa cerdas membedakan mana yang baik mana yang benar. well kalau memang bisa, maka kedamaian di dalam negara atau lingkup sempitnya yaitu keluarga, terciptalah dari dulu. tapi sekarang, nyatanya apa? banyak anak yang merasa kurang kasih sayang, banyak anak yang diperlakukan tidak sepantasnya, atau tidak jarang anak yang justru dimaki-maki dengan kasar oleh orang tuanya. lalu kalau sekarang banyak anak yang menjadi salah pergaulan, berbuat hal-hal negatif, mau gamau, dari mana kita harus memandang awal mula terjadinya itu? keluarga kan?
orang dewasa tidak benar-benar dilihat dewasanya hanya dari usianya. i need to say, that is true. saya hanya membayangkan, apabila orang tua sedang jalan-jalan dengan anaknya, lalu di dalam mobil, orang tua bertengkar hebat dan mau gamau anak gabisa mengalihkan pendengaran mereka, karena mereka stuck, sekencang apapun musik di kuping juga pasti tetap kedengaran. halusnya, mungkin akan diam-diam nangis. kasarnya, mungkin mereka akan berontak balik, melakukan hal baik atau buruk agar orang tuanya tak lagi bertengkar dan kembali tenang. apa pun akan dilakukan anak agar tidak lagi melihat orang tuanya bertengkar.
jadi, tolong para orang tua.. dan seluruh manusia yang kelak akan menjadi orang tua, mulai dari sekarang, belajar untuk menjaga perasaan anak. akan sangat diutamakan untuk anak kecil atau remaja. justru di usia itu mereka masih belum kuat untuk hal-hal seperti ini. bisa dimulai dengan teman, apabila kamu bisa menjaga perasaan atau emosi dengan teman, maka akan lebih mudah nanti untuk terbiasa melindungi perasaan anak. jaga emosi adalah yang paling penting. to keeps our children heart and creates the happy family.